Menjelang Wisuda
Pukul
3 pagi dan langit Jakarta berkabut karena asap. Saya menulis ini sambil memasak
Indomie Coto Makassar, salah satu varian rasa mie instan yang jarang dijual di
Pulau Jawa. Tidak sehat untuk sering dikonsumsi, tapi ini masih lebih baik
daripada ‘sup campur daging biasa’ yang dijual sebagai Coto Makassar disekitar
daerah ini. Beberapa hari lagi saya wisuda S1 dan setelahnya, Mama menyarankan
untuk mencari sekolah S2. Saya setuju dan mengerti alasannya. Mama seseorang
yang menikah muda hanyalah lulusan SMA. Beliau sudah kuliah jarak jauh selama
satu dekade dan belum sempat diselesaikan karena ia sibuk menyekolahkan empat
anaknya. Mama saya, perempuan Sulawesi etnis Bugis-Tolaki dan seorang
semi-konservatif sangat terbuka dengan ide dan pikiran baru. Artinya, dia
sangat socially-aware terhadap
hak-hak perempuan meskipun masih memiliki beberapa stigma tertentu terhadap
feminisme dan patriarki. Tapi dia terlalu baik untuk kami; tiga anak perempuan.
Ia berani mengirim tiga anak perempuannya sekolah dan merantau di Jawa ketika
banyak yang tidak suka dengan ide ‘mengirim anak perempuan sekolah diluar’
tersebut. Beliau juga meyakini bahwa perempuan harus menuntut pendidikan
setinggi-tingginya untuk memenuhi tujuan hidup. Cari passion hidup masing-masing, dan bisa independen secara finansial. Jalani
peran yang kami inginkan selain jadi istri dan ibu.
Sebagai
seorang single parents dengan
pekerjaan serabutan, Mama sering dikatakan nekat karena tiga tahun lalu
mengirim adik saya yang baru saja lulus SD ke Jawa.
Kenapa tidak
sekolah di Sulawesi aja bu anaknya.
Wah hati-hati
apalagi perempuan ‘kan.
Bukan
berarti Mama tidak percaya dengan sistem pendidikan di kampung halaman, tetapi
beliau lebih percaya kalau merantau akan membentuk kepribadian. Punya jaringan
dan teman yang berbeda-beda. Belajar lebih banyak tentang budaya lain dan be an open-minded person. Saya sendiri
merantau ketika lulus SMA di usia 15. Meskipun bukan yang terbaik di kelas,
tetapi Mama meyakinkan bahwa saya tidak perlu berkecil hati karena tidak
menguasai Fisika dan Matematika. Kekuatan saya di Ilmu Sosial, Bahasa Indonesia
dan Bahasa Inggris, meskipun mengambil kelas IPA. Makanya saya ambil ilmu
politik di kampus. I somehow survived it.
Kami bertiga tidak pernah ikut olimpiade atau punya piala hasil juara lomba
kiri kanan, tetapi keyakinan Mama yang mendorong supaya kami berkembang sesuai
karakter dan kepribadian masing-masing adalah piala bagi saya karena sudah
mendapatkan ibu yang hebat,- dan nekat.
Kabar
wisuda tentu terdengar dan tersebar di keluarga besar. Banyak anggota keluarga
terdekat saya yang menyarankan untuk menikah terlebih dahulu. Beliau-beliau ini
mengatakan bahwa apabila saya belum menikah sebelum mengambil master degree, saya akan kesulitan
menemukan lelaki. Saya “iya-iyain aja” dan tidak mau durhaka kepada tetua
dengan talk back. Banyak yang mengatakan
apabila perempuan sekolah ‘tinggi-tinggi’ (sebuah istilah konyol untuk yang
menempuh S2 atau S3), maka akan susah mencari jodoh. Banyak argumen balasan
yang saya bentuk; memang belum waktunya, bukan takdirnya, ada laki-laki yang
terintimidasi dengan perempuan berpendidikan tinggi, ada laki-laki yang
maskulinitasnya terluka dengan ilmu dan gelar, dan sistem adat Sulawesi
menerapkan standar mahar perempuan dengan tinggi sehingga pada ‘kabur’ semua.
Duar, bodo amat.
Terima
kasih Mama karena nekat.
Jakarta,
Juli/Agustus 2017
Komentar
Posting Komentar