Another Chapter
Mussolini, diktator Italia, lahir pada tanggal 29 Juli. Di tanggal itu juga ada pernikahan ikonik Putri Diana dan Pangeran Charles yang berakhir tidak sesuai harapan. Vincent van Gogh juga pada tanggal 29 Juli di tahun yang lain, meninggal dunia. Bagi ilmu Hubungan Internasional, 29 Juli juga berarti peringatan pendirian International Atomic Energy Agenvy (IAEA).
Hari itu berada di penghujung Juli. Tahun krisis atau berada di tahun berapapun, tanggal 29 selalu menjadi so-called tanggal tua. Ini salah satu alasan kalau teman-teman saya mulai menagih traktiran. Hahaha.
Melahirkan itu tidak mudah dan sakit, kata mama. Tapi melahirkan saya mudah diantara tiga adik-adik, kata mama lagi. Tidak ada sakit yang berkepanjangan atau depresi. Saya lahir tanpa rambut (ini ganjil, karena bayi-bayi di keluarga kami tidak ada yang terlahir botak. Rambut tipis dan halus, setidaknya). Saya juga tidak terlalu rewel, meskipun sering buang air tidak kenal tempat dan waktu sampai TK. Ini sering menjadi bahan olok-olok, bahkan sampai sekarang. Oh God why.
Diberi nama Michiko karena nama adalah do’a dan orangtua berharap. Harus dibilang menjadi semacam beban hidup. Ketika mereka menamakanmu ‘Michiko’ (dan ada unsur Mujizatya) yang berarti permasuri Jepang dan Mukjizat, maka ini jelas menjadi beban hidup. Saya harus berusaha lebih keras lagi supaya orangtua menyadari kalau Mukjizat yang dimaksud itu ada dalam diri putri sulungnya ini. Atau setidaknya bersikap layaknya permaisuri. Ini sudah jelas susah bagi saya yang hobi makan sambil angkat kaki dan pake tangan.
-
Ketika
entri ini terbit, saya tepat berumur 18 tahun 1 bulan 17 hari. I gotta say that, it was fantastic.
Selain momennya di kampung halaman, saya juga ditelpon secara mendadak dari sahabat-sahabat di Jogja. And the craziest part of the birthday is................ best birthday present ever.
Thank you, mister.
Sudah 18
tahun beberapa bulan sejak mama melahirkan saya. Sejak itu pula saya berpikir
untuk menulis tentang 'Apa yang telah dicapai ? Dilalui ? Gagal ?". Tanpa mau
mengenang bagaimana masa kecil saya dihabiskan, maka pikiran pertama kali
ketika berulangtahun kemarin adalah.... Saya harus menulis entah menulis tentang
hidup, renungan, atau harapan. Sering saya bertanya untuk apa menulis
kehidupan sehari-hari yang membosankan ? Saya suka menulis hal-hal kecil
dan tidak penting. Seperti, hujan dan adik-adik saya yang semakin nakal. Who
cares? Who gives a damn ? Saya juga tidak pernah berpikiran untuk
mempengaruhi orang lain atau mengajak teman-teman untuk menertawakan kehidupan saya bersama-sama. Blog ini ada karna saya sendiri senang
belajar tentang kehidupan dari semua orang. Melalui blog, buku, koran atau
sekedar tweets.
Membaca = Belajar
Makanya saya
menulis. Supaya saya bisa belajar lagi tentang kehidupan diri sendiri/orang
lain dan reminder kalau bahagia itu sederhana melalui hal
kecil. Seperti, hujan dan adik-adik saya yang ternyata merupakan salah satu dua kebahagiaan.
Dan saya harus selalu diingatkan oleh hal itu.
Here I go
after turning 18....
Banyak yang
bilang kalau saya telah melewatkan masa muda dan tidak menikmatinya.
Ya, mungkin.
Tapi saya tidak tau persis seperti apa ‘melewatkan masa muda’ itu. Saya
berkelompok dengan teman-teman, pernah bolos kelas, pernah lupa
membawa topi upacara, pernah pulang malam, dan saya juga pernah
‘seneng-senengan’ sama kakak kelas. Kalau definisi diatas tepat sesuai dengan
pemahaman teman-teman, maka jawabannya YA. Ya, saya (mungkin) pernah melewatkan masa
muda dan menikmatinya dengan cara sendiri. Saya tidak pernah menyesal merelakan
satu tahun untuk berlama-lama di sekolah.
Banyak yang
bilang kalau saya terlalu dini dan kecil untuk masuk dunia dewasa.
Saya
merasa tidak pernah terlalu dini untuk apapun. Untuk mengenal huruf dan abjad,
saya tidak perlu menunggu TK. Untuk mengenal apapun, tidak perlu menunggu situasi.
Pertanyaan
besar.
Saya selalu
bertanya berulang-ulang kepada teman, “Apa itu dewasa ? Dan bagaimana ?”.
Jawabannya tidak pernah memuaskan akal pikiran ini yang susah mengerti hal-hal
rumit. Katanya, dewasa itu tidak bersikap childish. Dewasa itu
harus serius dan berorientasi masa depan. Dewasa itu kerja. Dewasa itu tegas
dan keras.
Menurut
kalian dewasa itu apa dan bagaimana ?
Menjadi 18
juga berarti perubahan fisik.
Tahun lalu
ketika beranjak 17, perubahan fisik saya tidak berkembang. Padahal mama
meyakinkan kalau badan ini akan bertambah besar seiring usia. Saya tambah
kecewa ketika tahun ini, ketika beranjak 18, tidak ada perubahan. Susu murni satu
kali sehari. Susu milo hampir enam gelas tiap hari. Bagi sahabat, mereka
mengira kalau saya mengidap penyakit cacingan kronis. Makan banyak dan begitu
diolah menjadi lemak akan kalah oleh cacing. Huah aku kudu piye.
-
Bumi berputar pada porosnya. Begitu juga dengan keyakinan saya.
Memiliki ketakutan itu pasti. Apalagi menjadi dewasa.
Iya, 'kan ? Iya gak sih ?


Huhahahahhaha!! seperti biasa kocak dan ngenes tulisanmu chik!! :p
BalasHapus