Menjelang Wisuda
Pukul 3 pagi dan langit Jakarta berkabut karena asap. Saya menulis ini sambil memasak Indomie Coto Makassar, salah satu varian rasa mie instan yang jarang dijual di Pulau Jawa. Tidak sehat untuk sering dikonsumsi, tapi ini masih lebih baik daripada ‘sup campur daging biasa’ yang dijual sebagai Coto Makassar disekitar daerah ini. Beberapa hari lagi saya wisuda S1 dan setelahnya, Mama menyarankan untuk mencari sekolah S2. Saya setuju dan mengerti alasannya. Mama seseorang yang menikah muda hanyalah lulusan SMA. Beliau sudah kuliah jarak jauh selama satu dekade dan belum sempat diselesaikan karena ia sibuk menyekolahkan empat anaknya. Mama saya, perempuan Sulawesi etnis Bugis-Tolaki dan seorang semi-konservatif sangat terbuka dengan ide dan pikiran baru. Artinya, dia sangat socially-aware terhadap hak-hak perempuan meskipun masih memiliki beberapa stigma tertentu terhadap feminisme dan patriarki. Tapi dia terlalu baik untuk kami; tiga anak perempuan. Ia berani mengirim tiga anak peremp...